Showing posts with label Sara Fiza. Show all posts
Showing posts with label Sara Fiza. Show all posts

Tuesday, June 28, 2016

KURANG PERHATIAN

Sudah sebulan lebih Juned menjomblo. Hidupnya semakin tidak karuan. Sedikit-sedikit baper. Katanya kurang motivasi.

"Enggak ada yang merhatiin gue lagi" katanya bersungut-sungut.
"Juned! Juned!" Ibunya memanggil dari luar kamar, "Ayo sholat dulu, terus makan. Ibu udah siapin makanan nih. Sini nak"
"Berisiiiik, Bu! Bentar!"katanya dengan nada tinggi.
Si Juned, entah kurang perhatian atau kurang memperhatikan.

Thursday, June 23, 2016

SENYUM


Sudah kuduga Ia jatuh cinta padaku. Ia tersenyum padaku. Duh manisnya.
Setiap pagi sebelum aku berangkat ke sekolah, lelaki itu tersenyum padaku. Dia pasti sengaja lewat depan rumahku.
Hari ini aku sudah siap menyambut senyumannya.
Nah itu dia, dia datang tersenyum. Kini dia berjalan ke arahku. Aku semakin tersipu, dan...
"Brukkk!" Seorang bapak menjatuhkannya dengan sekali tubruk. "Maaf ya Neng, laki-laki ini sudah berhari-hari jadi buronan Rumah Sakit Jiwa."
Laki-laki itu dibawa pergi, ia masih meronta-ronta. Sebelum ia masuk mobil, ia tersenyum lagi. Ah, bukan. Itu seringai.

Thursday, June 16, 2016

SURAT SETAN

Sebelum Ramadan kemarin, aku mendapat surat dari setan. Dia berkata dia akan pergi selama bulan Ramadan. Setan sialan! Berani-beraninya dia berdusta. Buktinya di luar orang masih saling hina, dan aku baru saja tergoda untuk berbuka puasa. Bukan salahku! Salah setan-setan itu yang telah menggodaku. Dasar setan kurang ajar!
Hari ini baru saja kuterima surat dari setan lagi.
"Bukan aku yang menggodamu, dasar manusia. Berjalanlah ke depan cermin sambil terpejam. Kemudian buka matamu perlahan. Dialah yang menggodamu"
Aku melakukan hal yang Ia pinta. Kulihat wajahku ada disana.
"Kaulah setanmu sendiri" kata setan di akhir surat. Aku menelan ludah. Telingaku serasa dijejali tawanya yang terbahak-bahak.

Thursday, June 9, 2016

IKLAN SIRUP



"Siapa yang ngucapin buka puasa buat kamu yang jomblo? Iklan sirop? Hahaha" Temanmu tertawa puas sekali dari ujung telepon.

Kau kemudian memandangi wajah ibu paruh baya yang menuangkan sirup di iklan tv dan memandangi wajah yang sama di buku yasin yang kau genggam,
"Bu, aku rindu"
Air matamu luruh.

Thursday, June 2, 2016

HAPPY BIRTHDAY

He gives you a longing stare, "you're getting closer to me, I'm getting closer to you. We are one year closer to each other" said the grim reaper smiling. He's longing for you.



Thursday, May 26, 2016

PELUK

“Pada pelukanmu aku selalu berlabuh” katamu tersengal sambil berbaring di sampingku sehabis membongkar kuburanku malam itu.

Thursday, May 19, 2016

IDOLA


Ya ini sudah mirip. Ini sudah serupa. Sempurna. Ia memandangi wajahnya yang sudah menyerupai aktris luar negeri dengan topeng yang dia tempelkan ke wajahnya. Wajahnya sendiri ia kuliti dan ia buang ke dalam tong sampah..

Saturday, May 14, 2016

THE TODAY'S MADNESS-MIRIS

DEWASA
oleh
Sara Fiza


"Kamu masih marah?"
"Enggak" lagi-lagi Nadya hanya menjawab kesal. Mulutnya maju entah berapa sentimeter.

Andra sudah kehilangan ide bagaimana lagi merayu perempuan yang katanya makhluk paling sulit ditebak sedunia.
"Mau sampai kapan kamu kayak gini?" Andra mulai menegaskan suaranya dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, "Dasar cewek, coba kamu bersikap dewasa dong! Malu-maluin. Kayak anak kecil!"
"Kamu dong yang harusnya dewasa!"Akhirnya Nadya beranjak dan meninggalkan Andra di bangku belakang kelas.
Andra hanya bisa geleng-geleng menatap seragam merah putih Nadya berlalu keluar kelasnya. Kelas 5b.

THE TRASH-SAMPAH
oleh
Sarah Astro

Setiap pagi, Santi selalu saja membuang sampah di kamar kosnya ke halaman. Rajin sekali.
"San, mau buang sampah lagi? Nitip dong! Hehe"
Lalu aku bergegas karena harus buru-buru pergi ke kampus.
Dan dari depan pintu kulihat dia sedang memilah-milah makanan di sampah itu sambil terdengar suara lirihnya, "ayolah, makanan apa aja. masa empat hari aku ga makan."

Every morning, Santi always takes the trash out of her room and puts it to the yard. Such a nice lad. "Are you throwing the trash? Can you do it for me too?"
I begged her because I'm in rush to get to campus. But when I get in front of the door, I see Santi folding in garbage can and says, "come on, anything! If nothing, it'd be the fourth day without eating anything.."

DOUBLE STANDARD-STANDAR GANDA
by
Nugra Gente

"OH SO YOU ARE TELLING ME THAT I CAN'T DO WHAT YOU GUYS DOING?! HUUHH!!??" Said a girl to her employer, she seemed pissed.
And the boss asked her so calmly, "Do you really wanna go to the site-work and be the miner?"
"OH MY GOD! NOW YOU WANT ME TO GET INTO THE DIRT PIT AND NOT TO WEAR MAKE UP?" She was more pissed, she continued, "WHATEVER! I QUIT!"
Everybody in the meeting room was left confused and blankly stared at the slammed door.

"OH JADI ANDA ANGGAP SAYA TIDAK BISA MELAKUKAN APA YANG KALIAN BISA? GITU??!!!" Tantang seorang pekerja wanita ke atasannya, dia begitu kesal.
Dan lalu Si Pak Bos bertanya dengan lembut, "Apa Anda benar ingin terjun ke lapangan dan jadi penambang?"
"YA AMPUN! SEKARANG ANDA MAU SAYA PERGI KE TEMPAT JOROK DAN GA PAKE MAKE UP?" Semakin kesal, lanjutnya, "TERSERAH! SAYA BERHENTI KERJA DISINI!"
Semua orang yang berada di ruang rapat kebingungan dan hanya dapat menatap dalam diam pintu yang baru saja di banting.

Thursday, May 12, 2016

BERTAMU


            Siapa yang pernah siap menghadapi seorang teman—atau bahkan siapapun—bertamu dengan penuh darah diseluruh tubuhnya? Di hadapanku, ia ada. Mungkin aku terlalu berlebihan. Tidak seluruhnya. Wajahnya tidak penuh darah, hanya darah kering di sisi pelipisnya. Tapi selain itu aku tidak mengada-ngada. Badannya yang berbalut kaus dan rok bunga-bunga selutut memang penuh merah. Matanya kosong namun liar melirik sana sini. Kemudian menatapku dengan tatapan memelas. Giginya bergemerutuk, kedua tangannya menggenggam kuat sebuah tas besar hitam bercampur merah pekat. Bau anyir darah menguar kuat dari tas itu dan badannya. Aku menahan pekik dengan kedua tanganku. Napasku tertahan. Aku menariknya masuk melewati pintu dengan mata awas dan gerak cepat.
Entah bagaimana bentuknya tatapanku dan ekspresi wajahku ini tertangkap oleh mata kosongnya. Tubuhku menjelma kaku. Kemudian napasku patah-patah. Apa yang harus kulakukan?  
“Ra, bantu aku!” airmatanya luruh.
            Aku masih kaku.
Siapa yang pernah siap menghadapi seorang teman yang datang dengan darah di seluruh tubuhnya?
***
            Aku tidak pernah setuju dengan orang-orang yang selalu menakuti malam dan gelap. Tapi, nampaknya malam ini aku harus setuju dengan orang-orang yang takut akan malam. Malam ini, ketika pemukiman sudah benar-benar senyap. Rambut-rambut halus ditubuhku meremang. Malam ini temanku sendiri menyeret sebuah tas besar kedalam rumahku. Lantai putihku kini berbalut merah darah.
Ia masih terisak sambil terus berkata, “Bantu aku, Ra”
“A.. ad. ada apa? Apa yang terjadi, Wi?” aku mulai memberanikan diriku bertanya setelah mendudukan Dewi pada kursi kayu di ruang tamu. Butuh keberanian untuk mendudukan seseorang penuh darah di rumah yang hanya tinggal aku seorang diri. Tapi, otakku terlalu beku untuk memikirkan hal lain.
Ia masih terisak.
Sambil menunggu jawabannya. Aku mengatur napasku, juga mengatur kisruh dalam ruang-ruang kepalaku. Kisruhkah juga pikiranmu, Wi?
“Aku kena kutukan, Ra!” Dewi kemudian berkata dengan suara yang begitu pilu. Badan ringkihnya berguncang-guncang.
Mataku melebar. Sesekali aku melirik pada tas besar hitam yang Dewi bawa. Noda darah merah tua terlihat merembesi tasnya.  Kebingungan—lebih tepatnya ketakutan—telah meringkusku seketika. “Kutukan? Maksudmu, Wi?”
Aku berharap aku tidak bertanya padanya, jika ternyata jawabannya akan begitu semengerikan ini, “Aku dirasuki, Ra! Aku sepertinya membunuh seseorang. Aku tidak tahu siapa. Aku tidak ingat. Tapi ketika aku sadar. Aku sudah berdiri memegang golok penuh darah. Ada sesosok mayat di hadapanku sudah terpotong-potong…” Ia membekap mulutnya sambil terus sesenggukan.
“Aku berteriak. Tapi tidak ada seorangpun di rumahku. Aku takut, Ra. Aku takut,” Matanya makin membelalak. Kedua tangannya mendekap dirinya sendiri. Mencoba untuk menahan guncangan tubuhnya yang semakin menjadi-jadi, “Aku bingung. Aku.. Aku.. Aku menyimpan potongan tubuh mayat itu kedalam tas. Aku bingung harus kemana. Tanpa sadar aku sudah sampai di rumahmu dengan membawa tas ini. tolong aku! Apa yang harus aku lakukan! Jangan laporkan aku! Tolong! Aku bukan pembunuh”
Ia mulai berteriak histeris dan begitu memilukan. Aku menutup mulutku. Kemudian tidak sadar tubuhku ikut berguncang hebat. Air mataku kemudian mengalir. Aku mengunci Dewi dalam dekapanku takut-takut. Satu sisi hatiku berteriak segera kabur dan menjauhi rumah itu, satu sisi lainnya tidak ingin meninggalkan Dewi yang kebingungan dan ketakutan. Entah mana yang harus aku percaya.
Mulut yang sedari tadi kusumpal diam, entah bagaimana kemudian mengeluarkan suara penuh getar, “Wi, mungkin kamu bukan kerasukan. Mungkin ini tentang jiwamu. Kamu mungkin sudah benar-benar membunuh.”Aku teringat kasus-kasus kejiwaan di film-film. Kepribadian ganda, sleep disorder, dan kasus lainnya. Tidak ada lagi logika selain itu. Terlebih logika kerasukan yang entah dari mana datangnya.
“Maafkan aku, Wi. Kita harus segera lapor polisi. Tas mayat ini harus segera disingkirkan.” Aku masih memeluknya takut-takut. Berharap ia tenang dan tidak menggila disini. Aku tidak bisa menerima mayat dan pembunuhnya begitu saja di rumah, kan? Sekalipun itu Dewi. Ini harus segera dilaporkan, bukan? Pikiranku terus kisruh. Jantungku berdebum begitu keras. Kemudian aku merasakan tubuh dewi yang berhenti berguncang seketika. Ia melepaskan diri dari dekapanku dan menatapku dengan tatapan tombak. Aku beku.
****
Malam itu bahkan benda langit pun ragu menyaksikan suasana pilu di bawahnya. Seorang anak perempuan dengan rok bunga-bunga kini menyeret dua tas besar dengan aroma darah melewati jalan aspal di tengah pemukiman yang sepi—yang orang-orangnya sudah terlelap, yang petugas rondanya sedang sibuk tidur atau mungkin tertutup pandangannya oleh asap-asap rokok dan kartu-kartu remi.
Wajah Dewi—perempuan itu—begitu pucat seolah-olah cahaya wajahnya telah dicabut paksa. Mungkin bukan karena darah di sekujur tubuhnya, atau kemungkinan bahwa dirinya telah memotong-motong tubuh manusia. Tapi, mungkin karena tidak ada yang mau percaya pada dirinya. Bahkan temannya sendiri. Bahkan dirinya sendiri.  
Perempuan dengan rok bunga-bunga merah pekat itu menyeret dua tas besar aroma darah, salah satunya adalah mayat dari rumah yang tadi ia datangi, menuju rumah lain.
Tidak ada yang pernah siap menyambut teman yang penuh darah. Tapi, bukankah selalu ada tempat bagi tiap jiwa, Pikir perempuan itu.
Siapa yang pernah siap menghadapi seorang teman yang datang dengan penuh darah diseluruh tubuhnya? Kali ini ditambah dua tas besar dengan aroma darah. Salah satunya aku. Jika ada yang mengetuk-ngetuk pintumu malam nanti. Siapkah kamu?


Sara Fiza

Di ruang tamu rumah malam itu

Thursday, May 5, 2016

BERITA


Seorang gadis terperangah membaca berita di koran tentang jasadnya sendiri ditemukan di pesisir pantai.

Wednesday, April 27, 2016

Minta Jemput

Pak, cepat jemput aku. Disini gelap sekali
Sabar ya, sayang. Sebentar.

Setelah Pak Asep membalas deretan sms dari istrinya, Ia bergegas mengambil pacul dan lampu petromaks menuju kuburan istrinya.



-Terimakasih telah membaca fiksi mini kami. ikuti terus 3kengkawan untuk dosis fiksi mini setiap minggu.-

Wednesday, April 20, 2016

WAJAH

Wajahku mendadak panas, napasku tersengal-sengal saking kesalnya. Entah aku target keberapa.
"Berhenti meniru rupa wajahku!" Teriakku padanya.
Ia berlari dan berteriak-teriak tidak mau. Gawat! Kalau sampai 30 menit ia tidak tertangkap. Wajahku akan hilang selamanya. Berpindah pada kepalanya.
Selamanya.

Sunday, April 17, 2016

PLAGIARISME

PAINTING
By
Nugra Gente

One day a famous artist ran an art gallery, his first masterpiece was a little red dot painted on a huge white canvas. He explained to people who came by, "it's rage around goodness. It's my first painting." He said so proudly. 
Then a child approached, took a paper and a red crayon out of his backpack. He started drawing what he saw. 
The artist began to talk, "oh you are learning to copy MY art, aren't you little guy?" 
The child stopped what he was doing, "I'm not copying. I'm just learning!" 
The artist insisted, "But you ARE copying." 
"I'M NOOOT!!" 
"hey stop it! That's just another painting which looks just like my country's flag!" said a narrowed eyes guy across the room wearing a tourist hat.

 NASKAH 
Oleh
Sara Fiza

Ia mengangkat setumpuk naskah novel dengan bangga di tengah riuh kilatan kamera dan ratusan pasang mata.  "Inilah draft novel terbaik saya. Novel pamungkas saya" katanya sumringah. Dalam sorotan kamera, seorang penulis dunia yang karyanya selalu ditunggu-tunggu menjadi primadona. Sebuah masterpiece telah lahir kembali. Tepuk tangan membahana.
Di rumahnya aku berada. Menggelepar-gelepar kehabisan darah. Naskahku baru saja diambil  paksa. Lagi.

SURAT ANTRIAN
Oleh
Sarah Astro

Aku selalu kehilangan akal bagaimana caranya menghindari Mr. Royyan agar tidak memaksaku disuntik. 
Sudah 2 bulan terpaksa aku harus disuntik rutin akibat penyakitku ini. 
Karena sangat ketakutan untuk disuntik, hari ini aku mencari cara lain yang lebih aman. Yaitu mengganti data asli antrianku, memplagiasi data seseorang yang kutemukan di ruangan Mr. royyan kemarin. 
Tapi kemudian aku dipanggil suster dan dibawa dengan kursi roda ke ruangan bedah. 
"Ada apa?" Tanyaku tak mengerti. 
Lalu setelah aku masuk ke ruang bedah, dokter disana berkata, "jadi, ini pasien yang mau diamputasi tangannya itu? " 

Authors' note: Enjoy our little flash fictions || Selamat menikmati fiksi mini kami. 

Thursday, April 14, 2016

Saturday, April 9, 2016

MAMAN


PENCURI HATI
Oleh Sara Fiza

Maman namanya. Entah kenapa setiap kedatangannya, setiap hati bisa ia curi seketika. Kemudian, Ia makan selagi masih segar tercerabut dari tubuh pemiliknya.

***

A QUESTION
By Nugra Gente

"Oh this is so easy." said a student after reading a math test then wrote down the answer. Then come to the next problem, it said
"Fiza buys 23 watermelons for a carnival and puts them on her truck. As on her way home, She meets Astro and gets 45 more. But when loading down the watermelons, she finds out 17 of them are bad watermelons. So how many oranges does Maman have?" 
She mumbling in a confusion, "Who the fuck is Maman?"

***

SIAPA MAMAN?
Oleh Sarah Astro

"Kamu kapan nih, pake toga? aku khawatir ih kamu nggak lulus-lulus. Udah mau enam tahun juga kuliah. Siapa dosen pembimbingnya, Rin?" Anes bertanya dengan mulut penuh batagor. 

"Maman" jawabku pendek. 

"Hah, siapa Maman? Ada gitu, dosen kita namanya Pak Maman?" Dia bertanya lagi-lagi dengan mulut yang masih penuh dengan batagor. 

"Oh ada kali ya, aku aja yang udah jarang ke kampus. Hahaha ngapain juga udah lulus ke kampus." 

Belum sempet aku jawab, dia udah ngomong lagi. "Eh, rin. Dua bulan lagi aku mau nikah. Doain ya, maafin baru ngabarin, habisnya kamu ilang terus sih. Di kontak nggak bisa." Tuturnya sambil membuka botol air mineral, kayaknya dia keselek tuh. 

"Selamat ya, sing*  barokah pernikahannya." Ucapku dengan senyum mengembang melihat Anes yang makan sama ngomong sama-sama cepet. 

"Terus kamu kapan, Rin?" 

"Kapan apanya?" 

"Kapan nyusul nikah? Kamu udah ada calon, kan ya?" 

"Iya, Maman." 

"Eh, kok Maman. Siapa Maman? Kenapa calon kamu sama dosen pembimbing kamu sama namanya, sih?" Tanya Anes dengan mengernyitkan dahi.

"Maman lah, pokoknya mah." Jawabku lagi dengan singkat. "Ah, gampang lah ya, nanti kalau mau nikah mah kabarin aku, ya! Hehe" Anes ketawa sambil mukul pundakku dua kali. 

"Rin, bos ku di kantor nyebelin, tau Rin! Masa yah, aku cuma izin pake internet buat liat online shop aja kena SP, geura! Kan pelit banget yah." Anes udah biasa cepet ganti topik kalau lagi ngomong. Awalnya cuma ngomongin tempe nanti bisa-bisa ngomongin tante sebelah kosannya yang make up nya menor. 

"Sabar lah, Nes! Namanya juga dunia kerja. Lagian kamu nggak penting banget buka online shop pake internet di kantor." Kataku sok bijak. 

"Iya nih, Rin. Gini dunia kerja teh, keras. Nanti kamu rencana mau kerja dimana, Rin kalau udah lulus?" 

"Maman aja lah," aku jawab lagi dengan singkat. "Ih, kamu mah ditanyain teh dari tadi Maman lagi, Maman lagi, siapa sih Maman? Aku kenal, enggak?" Kata Anes yang kini sambil ngunyah sukro.

"Maman weh lah, pokonya mah!" Jawabku. 

"Iya, siapa Maman?"

"Iya, Maman. KuMa Maneh* ! Terserah mau nanya apa, kuMa Maneh weh lah! Udah yah, aku mau nemuin dosen pembimbing dulu." Aku langsug pergi dan meninggalkan Anes yang menurunkan kecepatan ngunyahnya sambil melongo. 



Keterangan:
*Sing(Bahasa sunda)=Semoga
*Kuma Maneh/Kumaha Maneh (Bahasa Sunda) = Terserah Lu aja dah!

Thursday, April 7, 2016

Donor

oleh
 Sara Fiza

Ketika anaknya dikabarkan membutuhkan donor jantung sesegera mungkin,
Seorang ibu berdiri dengan jantung di tangan kanannya dan dengan dada kiri yang masih berlubang.